ara…… :D

inilah dunia baruku, hey
bukan di alam baqa!!!! :D dunia dimana saya merasa menjadi seorang ilmuan yang menghabiskan
waktuku hanya untuk melarutkan satu butir obat. Dan itu menyenangkan. Ya…… awal
PKL ku ini memang di awali rasa su’udzon. Tapi yasudahlah, sekarang melihat
pada kenyataan. Namun bukan berarti melupakan masa lalu. Setidaknya cerita ini
membuat saya duduk di closet dengan nyaman @gaknyambung.com. hari
pertama PKL (21.01.2013) senin pagi, semuanya di awali dengan senyuman, kata
nuha dan nuha kata ibunya bahwa “awali harimu dengan senyuman” dan itu teori
awal pagi yang saya pakai, namanya teori hansuke.
Selanjutnya, selaku kami bangsa Indonesia, kami tak lupa untuk menjalankan
tradisi setiap hari senin yaitu upacara
bendera, dan kelas kami adalah petugasnya dimana saya selaku pembaca UUD
(sangat menegangkan) kenapa?? Karena, Pembina upaca hari ini tidak seperti
biasanya dia adalah kepala DINKES kota Serang. Suara lantang pun mau tak mau
harus di kumandangkan. Yahh terkesan lebay, tapi selagi masih ada yang lebih
lebay, tetap lanjutkan… setelah mengibarkan
sang merah putih, menginjak pada acara inti dimana kami sebagai pemeran utama.
Aku pun tak mengerti apa maksudnya, namun mencoba menela’ah yang terkandung
dalam tema “pelepasan siswa/I PKL”. Aula adalah suatu titik di pertemukannya si
biang kerok (alya, nuha, saya). Di depan aula semua panitia sibuk dengan
sambutan-sambutan yang tak kami mengerti. Dan kami pun tak mau kalah, akhirnya
kami mencari kesibukan, kesibukan yang gak jelas. walaupun keadaan terasa haru
karena semua berpisah untuk kembali selama 30 hari lamanya. Namun tetap, kami
akan selalu menjadi warna yaaa… karena bersama
itu warna. Dan pada saat itu kami dapat membuat sebuah teori edisi terbaru
yaitu teori “RADAR BANTEN” dengan kedua tangan yang terukir metal di tandukan
di samping atas kepala. Itulah salam persahabatan kami. Menyenangkan. Namun
semua tidak berlangsung lama, karena kami akan di lempar pembimbing sekolah
menuju tempat PKL dimana saya dan mereka (alya & nuha) berbeda tempat.
Tempat bersejarah saya yang akan menjadi sebuah penggalan cerita adalah PT.
YARINDO FARMATAMA, dimana pembimbing dari pihak sekolah kami adalah bapak
Hendry Gunawan M. kom. Dan saya menjalani kisah baru ini tidak sendiri, karena
saya akan menjalani hari-hari baru ini bersama Nisa dan Dhona. Tidak asing
(Nisa & Dhona) hanya saja perlu adaptasi demi kenyamanan kelak. Dan itu berjalan
seperti air yang dituangkan minyak di bantu dengan pancaran sinar matahari.
Walau sulit untuk menyatu tapi menimbulkan warna. Banyak sekali warna yang kami
tuangkan dalam buku yang tak terlihat secara fisik, buku yang tak di jual, dan
buku yang hanya dimiliki saya atau kita, buku itu adalah buku catatan hati.
Semua terilustrasi dengan penuh tawa walau tak sempurna. Dari setiap kejadian
yang saya renungi, ternyata warna dapat tumbuh di mana pun, tidak dengan hanya
satu kelompok itu saja. Dan kunci dari warna itu adalah Diri Sendiri.


- neomodernisme adalah suatu gerakan progresif dalam pemikiran islam yang timbul dari modernisme islam tetapi juga sangat tertarik pada pengetahuan tradisional. neomodernis mengajukan argumen bagi di terimanya pendekatan yang bersifatholistik terhadap ijtihad. ia mengambil informnasi dari pengetahuan klasik dan juga pemikiran kritis"Barat" moderrn dengan maksud dapat melihat pesan utuh Al-Qur'an dan penerapannya dalam masyarakat modern. aliran ini juga mengajukan argumen bagi suatu pemahaman islam yang progresif dan liberal yang menerima pluralisme masyarakat modern. ia mencoba membentuk masyarakat menjadi lebih islam lewat pendidikan, bukan lewat inisiatif atau politik, seperti usaha-usaha untuk memperkenalkan konsep syariat, atau bahkan hal-hal berkaitan dengan didirikannya negara islam.
- muktamar adalah kongres. muktamar NU diadakan tiap lima tahunsekali dan merupakan forum pembuat keputusan tertinggi dalam organisasi
- khittah 1926 adalah piagam 1926 adalah prodram reformasi yang di pelopori oleh Gus Dur dan Achmad Siddiq pada awal 1980-an untuk mengembalikan NU sesuai dengan visi para pendirinya