Jumat, 25 Januari 2013

t

ara…… :D

inilah dunia baruku, hey bukan di alam baqa!!!! :D dunia dimana saya merasa menjadi seorang ilmuan yang menghabiskan waktuku hanya untuk melarutkan satu butir obat. Dan itu menyenangkan. Ya…… awal PKL ku ini memang di awali rasa su’udzon. Tapi yasudahlah, sekarang melihat pada kenyataan. Namun bukan berarti melupakan masa lalu. Setidaknya cerita ini membuat saya duduk di closet dengan nyaman @gaknyambung.com. hari pertama PKL (21.01.2013) senin pagi, semuanya di awali dengan senyuman, kata nuha dan nuha kata ibunya bahwa “awali harimu dengan senyuman” dan itu teori awal pagi yang saya pakai, namanya teori hansuke. Selanjutnya, selaku kami bangsa Indonesia, kami tak lupa untuk menjalankan tradisi setiap hari senin yaitu  upacara bendera, dan kelas kami adalah petugasnya dimana saya selaku pembaca UUD (sangat menegangkan) kenapa?? Karena, Pembina upaca hari ini tidak seperti biasanya dia adalah kepala DINKES kota Serang. Suara lantang pun mau tak mau harus di kumandangkan. Yahh terkesan lebay, tapi selagi masih ada yang lebih lebay, tetap lanjutkan… setelah mengibarkan sang merah putih, menginjak pada acara inti dimana kami sebagai pemeran utama. Aku pun tak mengerti apa maksudnya, namun mencoba menela’ah yang terkandung dalam tema “pelepasan siswa/I PKL”. Aula adalah suatu titik di pertemukannya si biang kerok (alya, nuha, saya). Di depan aula semua panitia sibuk dengan sambutan-sambutan yang tak kami mengerti. Dan kami pun tak mau kalah, akhirnya kami mencari kesibukan, kesibukan yang gak jelas. walaupun keadaan terasa haru karena semua berpisah untuk kembali selama 30 hari lamanya. Namun tetap, kami akan selalu menjadi warna yaaa… karena bersama itu warna. Dan pada saat itu kami dapat membuat sebuah teori edisi terbaru yaitu teori “RADAR BANTEN” dengan kedua tangan yang terukir metal di tandukan di samping atas kepala. Itulah salam persahabatan kami. Menyenangkan. Namun semua tidak berlangsung lama, karena kami akan di lempar pembimbing sekolah menuju tempat PKL dimana saya dan mereka (alya & nuha) berbeda tempat. Tempat bersejarah saya yang akan menjadi sebuah penggalan cerita adalah PT. YARINDO FARMATAMA, dimana pembimbing dari pihak sekolah kami adalah bapak Hendry Gunawan M. kom. Dan saya menjalani kisah baru ini tidak sendiri, karena saya akan menjalani hari-hari baru ini bersama Nisa dan Dhona. Tidak asing (Nisa & Dhona) hanya saja perlu adaptasi demi kenyamanan kelak. Dan itu berjalan seperti air yang dituangkan minyak di bantu dengan pancaran sinar matahari. Walau sulit untuk menyatu tapi menimbulkan warna. Banyak sekali warna yang kami tuangkan dalam buku yang tak terlihat secara fisik, buku yang tak di jual, dan buku yang hanya dimiliki saya atau kita, buku itu adalah buku catatan hati. Semua terilustrasi dengan penuh tawa walau tak sempurna. Dari setiap kejadian yang saya renungi, ternyata warna dapat tumbuh di mana pun, tidak dengan hanya satu kelompok itu saja. Dan kunci dari warna itu adalah Diri Sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar